Studi Penggunaan Obat Inhibitor Pompa Proton : Lansoprazole

Beberapa bulan ini saya mencermati resep yang masuk ke Apotek Sentral di rumah sakit tempat saya bekerja. Sering sekali saya temukan peresepan lansoprazole kapsul dengan signa dua kali atau tiga kali sehari. Inilah yang membuat saya tergelitik mengutak-atik pustaka.

Lansoprazole merupakan obat dari golongan inhibitor pompa proton yang bekerja dengan menginhibisi sistem enzim (H+,K+)-ATPase sehingga mampu memblokir tahap akhir dari produksi asam lambung. Dengan begitu diharapkan produksi asam lambung dapat ditekan.

Lansoprazole diindikasikan untuk :

  1. Ulser duodenal aktif untuk terapi jangka pendek 4 minggu.
  2. Ulser gastrik (termasuk yang terinduksi penggunaan NSAID-Obat Antiinflamasi Nonsteroid-) untuk terapi maksimal 8 minggu.
  3. GERD jangka pendek maksimal 8 minggu.
  4. Esofagitis erosif maskimal untuk 8 minggu.
  5. Kondisi khusus hipersekretori (termasuk sindrom Zollinger-Ellison).
  6. Bagian dari terapi multiobat untuk infeksi H.pylori.

Dosis yang lazim untuk dewasa berdasarkan pustaka untuk Lansoprazole yaitu 15-30mg satu kali sehari. Penggunaan pada dosis lebih tinggi yaitu :

  1. 60mg satu kali sehari hanya digunakan sebagai dosis inisial pada kondisi hipersekretori, dosis selanjutnya menyesuaikan dengan respon terapi pasien).
  2. 30mg dua kali sehari untuk 10-14 hari bersama amoxicillin 1000mg dan chlaritromycin 500 mg dua kali sehari (bila pasien alergi penisilin antibiotik diganti dengan chlaritromycin 500 mg dan metronidazole 500mg dua kali sehari atau diganti dengan bismuth subsalycilate 525 mg dan metronidazole 250 mg + tetracycline 500 mg empat kali sehari).

Selain pada kondisi di atas, tidak ada literatur yang menyarankan penggunaaan lansoprazole dalam dua apalagi tiga dosis terbagi. Hal ini sangat wajar mengingat resiko-resiko di bawah ini.

  1. Meningkatnya inhibisi produksi asam lambung. Seperti yang telah diketahui bahwa supresi asam lambung dapat meningkatkan resiko infeksi gastrointestinal seperti Salmonella dan Campylobacter).
  2. Lansoprazole dimetabolisme di hati oleh CYP2 C19. Bila diberikan dalam dosis yang lebih akan memberikan beban lebih bagi sel-sel hati untuk memetabolisme kedua obat tersebut dan dikhawatirkan menimbulkan hepatotoksisitas.
  3. Meningkatnya resiko insidensi fraktur tulang osteoporosis pada paha, tulang belakang, atau pinggang pada pasien yang menggunakan lansoprazole dosis tinggi dalam jangka waktu panjang.

Lantas mengapa para dokter yang menggunakan lansoprazole kapsul PO dengan signa dua kali sehari bahkan tiga kali sehari padahal pasien tidak didiagonosis terinfeksi H.pylori? Hal ini kemungkinan diakibatkan tidak munculnya respon terapi yang diharapkan sehingga dosis ditingkatkan. Yang perlu dicermati adalah mengapa pada dosis normal respon terapi tidak tercapai.

Lansoprazole merupakan satu dari sekian banyak obat yang absorpsinya terhambat bila digunakan bersama makanan karena turunnya kadar obat dalam serum. Oleh karena itu, lansoprazole harus digunakan saat perut kosong yaitu 1 jam sebelum atau 2 jam sesudah makan. Hal inilah yang banyak tidak diketahui oleh pasien. Meskipun dalam etiket kemasan obat ditulis “SEBELUM MAKAN”, banyak pasien yang tidak memberikan jeda waktu yang cukup (minimal 1 jam) antara minum obat dan makan sehingga lansoprazole tetap tertahan bersama makanan di lambung. Akibatnya kadar obat dalam serum turun dibawah target sehingga respin terapi yang diharapkan tidak tercapai.

Selain itu perlu dicermati bahwa penggunaan lansoprazole dalam dosis tinggi menyebabkan supresi asam lambung berlebih sehingga dapat meningkatkan resiko infeksi gastrointestinal seperti Salmonella dan Campylobacter). Tentu saja dosis terkecil yang memunculkan respin terapi yang diharapkan harus dipilih.

Melihat kondisi seperti ini, apa yang perlu dilakukan oleh apoteker di ranah klinik dan komunitas?

  1. Mengkomunikasikan kasus ini kepada dokter-dokter terkait agar terbangun mutual understanding mengenai peresepan lansoprazole yang rasional (terjamin keamanan dan khasiatnya bagi pasien).
  2. Melakukan konseling, informasi, dan edukasi obat kepada pasien mengenai waktu penggunaan lansoprazole agar pasien paham dan dapat mengkonsumsi obat dengan benar.

 

Pustaka :

Drug Information Handbook 2011-2012, 20th Ed, Lexi-Comp.

Handbook of Clinical Drug Data, 10th Ed, McGraw-Hill.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s