Bersyukur v2.0

Sebagai “makhluk Tuhan paling sempurna” (bukan “paling sexy”, karena makhluk Tuhan paling sexy adalah klaim sepihak Mulan Jameela), manusia tentunya dititipkanNYA berbagai potensi yang tidak dimiliki oleh makhluk-makhluk ciptaanNYA yang lain.

Alloh menitipkan potensi sebagai modal dasar dalam melaksanakan “misi besar” yang diemban manusia : bertugas mengabdi/taat/beribadah kepada Alloh dengan menjalankan fungsi sebagai pengelola bumi (khalifah) dengan cara berperan menegakkan diinNYA di muka bumi.

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepadaKU. (QS 51:56)

Dan Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. (QS 2:30)

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan amat bodoh, (QS 33:72)

Dia telah mensyariatkan kamu tentang diin apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah diin dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik diin yang kamu seru mereka kepadanya. Alloh menarik kepada diin itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (diin) -Nya orang yang kembali (kepada-Nya). (QS 42:13)

 

Potensi tersebut datang dari 2 arah, internal dan eksternal, dari dalam diri maupun dari luar diri manusia.

Potensi internal dalam diri setiap manusia tersebut yaitu akal, hati, penglihatan, pendengaran.

Alloh menyediakan bagi mereka adzab yang keras, maka bertakwalah kepada Alloh hai orang-orang yang mempunyai akal, (yaitu) orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Alloh telah menurunkan peringatan kepadamu, (QS 65:10)

Dan Alloh mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (QS 16:78)

Sedangkan potensi eksternal yang datang dari luar yaitu diin (Islam) dan huda (petunjuk),

Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur’an) dan diin yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala diin, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. (QS 9:33)

Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan diin yang haq agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Alloh sebagai saksi. (QS 48:28)

 

Agar dapat menjalankan misi besar tersebut, kedua potensi ini tidak dapat dipisahkan keberadaannya. Tugas-fungsi-peran tersebut tidak akan bisa dijalankan bila hanya menggunakan potensi internal tanpa disertai potensi eksternal, begitu pula sebaliknya.

Lalu apa hubungannya ‘potensi’ dengan ‘bersyukur’?

Kita ambil analogi sederhana. Saat kita kecil, orang tua kita menghadiahi kita alat-alat tulis dan perlengkapan sekolah yang bagus : tas-buku-ballpoint-tempat pensil-sepatu yang bagus. Tidak lain agar kita semakin semangat belajar & mampu menghadiahi orang tua kita prestasi yang membanggakan mereka. Bila kita ingin berterima kasih kepada orang tua kita atas apa yang mereka berikan, cara yang paling logis adalah dengan mendayagunakan segala yang mereka berikan untuk belajar sebaik mungkin untuk membuahkan prestasi di sekolah hingga akhirnya mereka bangga memiliki anak seperti kita, bukan begitu?

Sama halnya dengan segala potensi yang Alloh berikan. Cara paling logis untuk bersyukur atas segala nikmat yang IA berikan adalah dengan mendayagunakan segala yang ia titipkan untuk menjalankan tugas-fungsi-peran yang IA lekatkan pada kita. Artinya mendayagunakan akal, penglihatan, pendengaran, hati kita untuk mengabdi kepadaNYA hingga akhirnya IA menganugrahkan nikmat yang lebih besar : ridhoNYA, yaitu kemenangan di dunia dan surga di akhirat kelak.

Manusia yang enggan bersyukur, enggan mendayagunakan potensi yang ia miliki dijalanNYA sama saja dengan merendahkan dan menjatuhkan dirinya ke derajat binatang. Secara raga ia manusia, namun secara jiwa ia adalah hewan. Na’udzubillahi min dzalik..

 

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS 7:179)

 

Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir. (QS 7:176)

 

Dan sebagai penutup :

 

Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur. (QS 23:78)

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS 17:36)

Mari bersyukur!

One thought on “Bersyukur v2.0

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s